Kabupaten Blitar, tagarjatim.id – Hari ketiga proses pencarian penambang pasir yang tertimbun tebing longsor di aliran lahar Kali Putih, Desa Karangrejo, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, akhirnya membuahkan hasil.
Jenasah Nurkholis, warga Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, berhasil ditemukan dan dievakuasi oleh tim gabungan, Selasa (18/2/2025). Penemuan jenazah korban ini, mengakhiri operasi pencarian dua orang korban tertimbun longsor tebing sejak hari Minggu lalu.
“Korban terimbun longsor berjumlah 2 (dua) orang sudah berhasil diketemukan dan dievakuasi, hari pertama menemukan korban Rohman dan hari kedua menemukan korban Nurkholis,” ujar Kasi Humas Polres Blitar Iptu Putut Siswahyudi kepada wartawan.
Putut menambahkan, proses pencarian dua korban longsor tebing dimulai sejak Senin kemarin. Operasi pencarian melibatkan tim gabungan dari kepolisian, TNI AD, BPBD Kabupaten Blitar, SAR Trenggalek dibantu relawan dan warga. Proses pencarian menggunakan alat berat, mengingat banyaknya material longsor dan lokasinya yang sangat sulit.
Pencarian hari kedua ini, dimulai sejak pagi dan berhasil ditemukan sekitar pukul 12.50 wib. Selanjutnya jenasah dievakuasi dan dibawa ke rumah duka di Penataran.
“Jenasah dievakuasi dari lokasi kejadian menuju jalan perkampungan menggunakan Backbone Polsek Garum, setelah dilakukan pemeriksaan dan identifikasi oleh petugas kesehatan dan tim ident polres, kemudian dibawa ke rumah duka,” imbuh Putut.
Seperti diketahui, dua orang penambang tradisional, Nukholis, 45 tahun, warga Desa Penataran Kecamatan Nglegok dan Rohman, 31 tahun, warga Dusun Bulu RT 3 RW 7 Desa Modangan Kecamatan Nglegok tertimbun saat menambang pasir di tebing sisi barat aliran Kali Putih Minggu (16/2/25).
Keduanya tertimbun saat sedang melakukan aktivitas penambangan pasir dan batu, dengan cara menyemprotkan air ke tebing, untuk memisahkan pasir batu dan tanah. Cara ini banyak dilakukan penambang, meski berbahaya bagi keselamatan penambang. Tercatat, sejak 2024 lalu telah terjadi dua kali longsor yang menewaskan penambang tradisional, di lokasi yang sama. (*)















