Kota Blitar, tagarjatim.id – Barisan Barongsai dan Liang-liong menari atraktif di kawasan pertokoan pecinan Kota Blitar, Rabu (12/2/2025). Liukan Liang-liong dan lompatan atraktif pemain tarian tradisional Tiongkok ini, menyedot perhatian ribuan pasang mata pengunjung yang datang.

Iring-iringan replika singa dan naga raksasa ini, berkeliling di kawasan pertokoan Kota Blitar sepanjang 8 km, sambil sesekali menghampiri pemilik toko yang sudah menunggu di depan toko. Pemilik biasanya memberikan angpao ke mulut barongsai dan liang liong, sebagai tradisi turun temurun.

Pertunjukan Liang-liong dan Barongsai ini digelar untuk memperingati Cap Go Meh atau 15 hari pasca Imlek. Dalam perayaan kali ini, sedikitnya 7 Barongsai dan 1 Liang-liong turut andil untuk memeriahkan perayaan yang digelar setahun sekali ini.

Meski Barongsai dan Liang-liong merupakan tradisi masyarakat Tiongkok, namun para pemain tarian tradisional tersebut tak semuanya keturunan Tionghoa. Ada akulturasi atau percampuran budaya, yakni sekitar 70 persen pemain Barongsai dan Liang-liong adalah warga lokal atau bukan keturunan Tionghoa.

“Ya sekitar 70 persen pemain barongsai dan Liang liong kami adalah warga non keturunan. Mereka bukan hanya dari kota saja namun ada dari kabupaten,” tutur Daniel Dan, Ketua Barongsai Klenteng Poo An Kiong Kota Blitar, kepada tagarjatim.id di sela mendampingi anak buahnya.

Daniel menambahkan, akulturasi budaya antar warga lokal dan keturunan ini sudah terjadi sejak lama di Klenteng tertua di Blitar ini. Daniel mengaku tidak tahu pasti kapan persisnya, namun semenjak dirinya melatih, justru mayoritas pemainya memang warga lokal. Mereka juga menjaga kerukunan, kekompakan dan kebersamaan dalam memainkan barongsai dan liang liong ini.

“Jauh sebelum saya, sudah seperti ini, saya tidak tahu persisnya. Mereka bahkan ada yang dari kabupaten,” imbuh Daniel.

Kirab barongsai dan liang liong di Cap Go Meh ini merupakan tradisi yang sempat hilang saat pandemi covid 19 lalu. Kirab ini kembali digelar, dan mampu menyedot perhatian warga untuk menyaksikan dari dekat.

Warga pun antusias mengajak anak-anak, untuk menyaksikan Barongsai warna warni ini melakukan atraksi bahkan berinteraksi dengan penontonya. Tak jarang mereka juga mengajak foto bersama, karena kirab ini hanya dijumpai setahun sekali.

“Melihat dari dekat, untuk hiburan anak saya. Karena cuma setahun sekali melihat tradisi ini,” ucap Listin, penonton yang berasal dari Kelurahan Blitar kepada tagarjatim.id. (*)